song by me

Saturday, 19 September 2015

" komunikasi sosial "

PERBEDAAN PUBLIC RELATION DAN MARKETING 



Defenisi Public Relation, Fungsi dan Bedanya dengan Marketing
A.  Defenisi Public Relations
Pada tahun 1975, Yayasan Pendidikan dan Penelitian PR telah melibatkan 65 pimpinan PR turut serta dalam suatu penelitian yang menganalisis 47II definisi yang berminat dan merangkumnya menjadi 88 kata. Hal ini diungkapkan oleh Fraser P. Seitel, Senior Vice Presiden dan Director of Public Affairs The Chase Manhattan Bank, dalam bukunya The Practice of Public Relations.
Definisi yang dihasilkan dari penelitian tersebut adalah public relatios merupakan sebuah fungsi manajemen yang membantu menciptakan dan saling memelihara alur komunikasi, pengertian, dukungan, serta kerjasama suatu organisasi/perusahaan dengan publiknya dan ikut terlibat dalam menangani masalah-masalah atau isu-isu manajemen.
Definisi lainnya masih menyebutkan bahwa PR adalah sebuah fungsi manajemen, seperti yang disebutkan oleh Cutlip, Center, & Brown :
PR adalah fungsi manajemen secara khusus yang mendukung terbentuknya saling pengertian dalam komunikasi, pemahaman, penerimaan dan kerja sama antara organisasi dengan publiknya, (Cutlip, Center & Brown, II000:4)
Menurut Ardianto, dalam pelaksanaannya PR menggunakan komunikasi untuk memberitahu, mempengaruhi, dan mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku publik sasarannya. Hasil yang dicapai dari kegiatan PR pada intinya adalah good image (citra baik), goodwill (itikad baik), mutual understanding (saling pengertian), mutual confindece (saling mempercayai), mutual appreciation (saling menghargai), dan tolerance (toleransi).
Beberapa tokoh dalam dunia komunikasi memberikan batasan-batasan atau definisi tersendiri tentang PR antara lain yaitu:
  1. John E. Marston (Modern Public Relation, 1979): “Public Relations is planned, persuasive coomunication designed to influence significant public”
  2. Robert T. Relly (The Action of Public Relation, 1981):“Public Relations Practice is the art and social science of analyzing trends, predicting their consequences, counseling organizations leaders, and implementing planned program of action which serve both the organization’s and the public interest.
  3. IPRA, “Public Relations merupakan suatu kegiatan yang bertujuan memperoleh good will, saling pengertian, citra baik dari masyarakat.”
  4. J.C. Seidel, Public Relations Director Of Housing, State of New York (dalam Saoemirat dan Ardianto, II00II : 1II), yang berbunyi :“Public Relations adalah proses yang terus menerus dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para pelanggannya, para pekerjanya, dan masyarakat luas, ke dalam dengan mengadakan analisis dan perbaikan-perbaikan terhadap diri sendiri, ke luar dengan mengadakan pernyataan-pernyataan”.
  5. Sukatendel (1990) dalam Ardianto (II004):“Suatu metode komunikasi untuk penciptaan citra positif dari mitra institusi atas dasar kesadaran untuk menghormati kepentingan bersama.”
Dalam definisi yang diungkapkan tersebut terdapat sejumlah butir penting yaitu:
·    Public Relations (PR) adalah sebuah ilmu yang cabang keilmuannya berasal dari ilmu komunikasi. Sebagai suatu cabang keilmuan maka PR bukan sekadar isu semata tetapi mempunyai dasar berpikir yang dapat dijelaskan dan dipertanggung jawabkan melalui metode logika tertentu layaknya pengujian terhadap cabang keilmuan lainnya.
·       Citra adalah obyek dari PR yang telah menjadi kebutuhan dari institusi layaknya sumber daya yang telah ada seperti sumber daya manusia, sumber daya keuangan, sumber daya peralatan bahkan sumber daya pengetahuan.
·      Mitra adalah subyek dari PR disamping institusi itu sendiri. Mitra adalah bagian dari operasi sebuah institusi, tanpa mitra sebuah institusi tidak dapat berjalan.
·       Kepentingan bersama adalah apa yang hendak dicari oleh II (dua) institusi dalam koneksi satu dengan yang lain. Contoh yang nyata pembeli dan penjual mempunyai tujuan bersama yaitu tercapai kesepakatan untuk melakukan transaksi jual beli.


Public Relations menurut definisi yang dirumuskan oleh IPR (Institute Public Relations) adalah praktek humas yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan (terus-menerus) dalam rangka menciptakan dan mempertahankan niat baik (goodwill), serta sikap-sikap yang saling pengertian yang bersifat timbal balik (Mutual Understanding) antara suatu organisasi atau perusahaan dengan segenap khalayaknya. (Frank Jefkins, 1996:8)
Dalam Kongres I Asosiasi PR Sedunia di Mexico City tahun 1978 diperoleh kesepakatan tentang definisi PR Sebagai seni sekaligus ilmu sosial yang menganalisis berbagai kecenderungan, memperkirakan setiap kemungkinan konsekuensi darinya, memberi masukan dan saran-saran kepada pemimpin organisasi, serta menerapkan program-program tindakan yang terencana untuk melayani kebutuhan organisasi atau kepentingan khalayak
Frank Jefkins (1995 : 9):“Public Relations adalah sesuatu yang merangkum keseluruhan komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian”.
Dari beberapa definisi di atas, terdapat beberapa kesamaan konsep yang dapat ditarik sebagai kata kunci untuk definisi PR tersebut, yaitu :
  1. Deliberate, artinya kegiatan PR pada dasarnya adalah kegiatan yang disengaja.
  2. Planned, artinya kegiatan PR adalah kegiatan yang terorganisir rapi atau terencana.
  3. Performance, artinya PR yang efektif harus didasarkan pada kebijakan dan penampilan yang sesungguhnya.
  4. Public Interest, artinya alasan mendasar dari suatu kegiatan PR adalah untuk memenuhi kepentingan publik dan tidak semata-mata untuk membantu organisasi meningkatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
  5. Two ways communications, artinya pada dasarnya dalam kegiatan PR harus terjadi pertukaran komunikasi.
  6. Management functions, artinya PR paling efektif jika ia menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dalam sebuah manajemen organisasi.

B. Definisi Konsep Dan Kekhasan Public Relations

1.      Menuju Perubahan Konsep
Berubahnya sudut pandang dari Public Relations mempengaruhi perubahan fungsi dalam perkembangan organisasi dan masyarakat. Mereka juga menunjukkan perjuangan profesi yang timbul mencari identitas sendiri sebagai fungsi manajemen dalam organisasi. Yang paling menarik dari perubahan ilustrasi yaitu bagaimana konsep mengambil arti secara umum.
Di Amerika Serikat (AS), kepentingan bisnis yang mulanya banyak mendorong tampilnya kekuatan Public Relations yaitu pada awal tahun 1900-an, mengangkat pekerja Public Relations yang disewa untuk melindungi usaha dirinya dan monopolinya dari gangguan “keusilan” pemberitaan wartawan dan ancaman peraturan pemerintah. Titik beratnya adalah mengangkat sudut pandangnya dan memajukan “serangan” balik yang dirancang untuk mempengaruhi pendapat publik dan mencegah politik publik mengubah-ubah peraturan bisnis yang telah mapan.
Satu cara komunikasi, yaitu persuasi, mendominasi AS pada saat memasuki Perang Dunia I dan Presiden W. Wilson menciptakan Komite Informasi Publik. Komite itu diketuai oleh G. Creel dan anggotanya adalah propaganda muda yang kemudian membentuk lembaga PR (Public Relatioans firm). Tujuannya adalah untuk menyatukan pendapat publik di belakang usaha perang melalui kampanye propaganda di berbagai tempat. Selama beberapa tahun Public Relations mengambil bentuk publikasi untuk mempengaruhi pihak lain.
Banyak yang masih menganggap Public Relations sebagai persuasi belaka. Sebagai contoh, satu kamus membatasi Public Relations sebagai “Mempersuasi publik untuk memahami dan saling menghargai”. Definisi ini mempengaruhi tulisan Edward L. Bernays, penemu penemu Public Relations – dalam bukunya yang berjudul “The Engineering of Current” (1955).
Selama beberapa dekade setelah Perang Dunia II, definisi mengarah ke dalam lingkup pengertian ide komunikasi dua arah dan hubungan. Definisi memasukkan kata saling, timbal balik (mutual) dan diantaranya menunjukkan fungsi perkembangan. Konsep interaktif ini ditunjukkan dalam Webster Third News International Dictionaries dengan definisi PR sebagai “seni dan ilmu pengetahuan untuk membangun saling pengertian dan menghargai”. Institut of Public Relations di Inggris membatasi fungsi sebagai usaha untuk menunjukkan dan mengutamakan pengertian timbal balik antara organisasi dan publik.
Professor Yale dalam Public Opinion Quarterly menemukan Harwood L. Childs memperkenalkan konsep yang lebih baik pada akhir tahun 1930-an. Menentang kebijaksanaan yang biasa dilakukan, Childs menarik kesimpulan bahwa Public Relations yang sesungguhnya adalah “bukan presentasi sudut pandang, tidak seni yang dipengaruhi oleh bakat, tidak juga pengembangan hubungan yang ramah dan menguntungkan”. Fungsi dasarnya adalah “untuk mengatur atau memufakatkan kepentingan dalam kedua aspek yaitu diri kita dan kebiasaan bekerjasama yang mempunyai hubungan sosial yang signifikan”. Singkatnya fungsi Public Relations menurut Childs adalah untuk membantu organisasi mengatur lingkungannya, sebuah konsep Public Relations yang muncul beberapa tahun kemudian sebagai bagian dari pikiran modern.
Adaptasi organisasi sebagai hasil Public Relations merekomendasikan suatu fungsi manajemen, suatu peran yang mempengaruhi kebijakan dan disamping itu mengemban fungsi tindakan korektif dalam komunikasi. Asosiasi Public Relations Internasional mengambil elemen ini dengan memasukkan “konseling pemimpin organisasi” dan menyatakan “program rencana tindakan” dalam definisi Public Relations .
Singkatnya, Konsep satu arah Public Relations disadari hampir mendekati ke propaganda dan komunikasi persuasif, istimewanya dalam bentuk publisitas. Sedangkan konsep dua arah menekankan konsep pertukaran dalam komunikasi, hubungan timbal balik, dan saling pengertian. Perluasan lanjut konsep dua arah termasuk penyesuaian organisasi, dengan menambahkan manajemen bimbingan dan melakukan tidakan korektif sebagai peran PR.

2.      Membatasi Konsep Public Relations Dalam Praktek
Menggambarkan apa yang dilakukan Public Relations dalam praktek merupakan masalah lain dalam memberi batasan fungsi. Satu usaha yang paling gigih untuk membatasi pekerjaan PR dilakukan oleh surat kabar Public Relations satu dari beberapa iklan yang terbit dalam bidang ini. Definisi ini memberitahukan bagaimana Public Relations menjalankan tugasnya dalam organisasi. Public Relations adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengenali kebijaksanaan dan tata cara seseorang atau organisasi dengan menaruh perhatian pada publik, merencanakan dan menjalankan program tindakan untuk memperoleh pengertian dan kepercayaan publik.
Dr. Rex F. Harlow mengumpulkan 472 definisi yang ditulis awal tahun1900-an sampai 1976, kemudian menyimpulkan:
Public Relations adalah fungsi manajemen tersendiri yang membantu mengukuhkan dan menjaga kesinambungan komunikasi timbal balik, pengertian, penerimaan serta kerjasama antara organisasi dengan publiknya; termasuk manajemen issue, membantu manajemen agar selalu terpenuhi informasi dan responsif terhadap pendapat publik; mendefinisikan dan menekankan tanggungjawab manajemen untuk melayani kepentingan publik, membantu manajemen selalu tanggap dan memanfaatkan secara efektif perubahan setiap waktu, bertindak selaku juru pengingat untuk mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan yang ada; serta menggunakan riset, pengetahuan, dan etika komunikasi sebagai alat utamanya.
Sebagian unsur yang umumnya ada dalam kebanyakan definisi Public Relations menyiratkan bahwa

  1. Melakukan perencanaan dan menopang program pengembangan citra sebagai bagian manajemen organisasi.
  2. menangani kegiatan-kegiatan menjembatani hubungan komunikasi antara organisasi dengan publiknya.
  3. memonitor kesadaran, pendapat, sikap dan perilaku di dalam dan di luar organisasi yang terkait dengan citra organisasi,
  4. menganalisa dampak komunikasi dari kebijakan, prosedur, dan tindakan-tindakan yang ditujukan kepada publik,
  5. menyesuaikan kebijakan, prosedur, dan tindakan-tindakan yang ternyata menimbulkan masalah komunikasi dan bertentangan dengan kepentingan publik dan kelangsungan hidup organisasi,
  6. memberikan jasa konsultan kepada manajemen untuk menyusun kebijakan, prosedur, dan tindakan-tindakan baru yang saling menguntungkan bagi pembentukan iklim komunikasi baik pada organisasi maupun publiknya.
  7. menstimulir kearah komunikasi konvergen dan sinergi dua arah antara organisasi dengan publiknya, serta menjaga dan melestarikannya.
  8. memperkenalkan perubahan-perubahan spesifik dalam kesadaran, pendapat, sikap dan perilaku di dalam dan di luar organisasi,terjaganya hubungan atau menghasilkan hubungan baru antara organisasi dengan publiknya.

Perubahan konsep dan usaha-usaha untuk menggambarkan praktek mengarahkan pada definisi berikut: Public Relations adalah fungsi manajemen yang menegakkan dan menjaga-pelihara hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara organisasi dan publiknya dimana padanya bergantung kesuksesan dan kegagalannya.

C. Perbedaan Public Relations dengan Marketing

Sangat sulit menarik benang merah perbedaan antara PR dan Marketing, bahkan terkesan tidak jelas. Kedua bidang ini saling mempengaruhi dan sangat penting dimiliki oleh sebuah perusahaan atau organisasi. PR dan Marketing menentukan sukses atau tidaknya sebuah perusahaan. Sebagian Manager tidak begitu memahami hakekat fungsi dan tujuan keberadaan PR dalam sebuah perusahaan. Fungsi PR dipandang hanya merupakan sub-bagian dari fungsi marketing dan hanya menjalankan fungsi publikasi. Pun demikian, jika kita kaji lebih dalam lagi, PR bukan hanya sub-bagian dari fungsi marketing, namun juga menjalankan fungsi dalam pengelolaan hubungan, baik internal maupun eksternal sebuah perusahaan demi hasil yang dicapai secara maksimal.
Meski tidak selalu didefenisikan secara jelas dalam praktiknya, marketing, dan PR dapat dibedakan secara konseptual dan hubungannya dijelaskan. Pertama, keinginan dan kebutuhan orang adalah aspek fundamental bagi konsep marketing. Apa yang orang inginkan atau butuhkan akan diterjemahkan sebagai permintaan konsumen. Pemasar menawarkan produk dan jasa untuk memuaskan permintaan tersebut. Konsumen memilih produk dan jasa yang memberikan kegunaan, nilai, dan kepuasaan paling besar. Terakhir, pemasar menyerahkan produk atau jasa kepada konsumen untuk ditukar dengan sesuatu yang bernilai.
Menurut ahli pemasaran Philip Kotler: “pertukaran, yang merupakan inti dari konsep marketing, adalah proses mendapatkan produk yang di inginkan dari seseorang dengan menawarkan sesuatu sebagai imbalannya.” Transaksi inilah yang membedakan fungsi marketing-dua pihak saling menukar sesuatu yang bernilai bagi kedua belah pihak.
Ringkasnya, marketing menciptakan hubungan dimana pertukaran terjadi-kepemilikan berpindah tangan. Tujuan marketing adalah menarik dan memuaskan konsumen secara terus menerus dalam rangka mengamankan “pangsa pasar” dan mencapai tujuan ekonomi perusahaan.
Untuk tujuan itu, publisitas produk dan hubungan media digunakan untuk mendukung marketing. Karena spesialis PR biasanya tahu cara menulis untuk media itu, dan tahu cara bekerja mengahadapi wartawan, serta tahu cara merancang dan mengimplementasikan program komunikasi internal, maka para pemasar meminta bantuan mereka dalam menjalankan program marketingnya.
Contoh:
Produk Kentucky Fried Chiken atau yang lebih dikenal dengan akronim KFC telah dikenal secara luas oleh masyarakat. Tidak ada masyarakat yang tidak mengetahui KFC meskipun mereka belum pernah menikmati ayam gorengnya yang renyah dan gurih. KFC bukanlah produk asli Indonesia, melainkan produk makanan cepat saji yang berasal dari salah satu negara bagian di Amerika, Kentucky. Kita percaya bahwa produk KFC itu enak walaupun baru mengenalnya. Hal ini terjadi karena sistem manajemen perusahaan KFC yang baik. Mereka menggunakan jasa PR dengan sangat maksimal dalam hal pencitraan kepada masyarakat. Selanjutnya, PR melakukan fungsi publikasi yang menjadi sub-bagian dari fungsi marketing guna mempromosikan produk kepada masyarakat. PR memasang iklan di berbagai media massa; cetak maupun elektronik, yang kesemuanya itu dapat diakses/dilihat oleh masyarakat. Iklan atau promosi yang dilakukan oleh manajemen KFC berupaya mempengaruhi masyarakat untuk mencoba dan membeli produk KFC. “Jagonya Ayam” merupakan slogan KFC yang mampu mempengaruhi publik. Hasil yang diperoleh KFC dapat kita lihat pada kenyataannya saat ini. Produk KFC dikonsumsi dan dipercaya oleh masyarakat sebagai produk ayam goreng yang gurih, renyah, dan enak melebihi ayam goreng yang dimasak di rumah sendiri, meskipun belum ada jaminan bahwa produk KFC tersebut halal.

Dari contoh singkat di atas, dapat dilihat bahwa PR dan Pemasaran saling mempengaruhi satu sama lainnya. Kedua posisi ini tidak dapat dipisahkan mengingat hasil yang ingin dicapai sebuah perusahaan karena Public Relations mampu melakukan fungsi marketing (pemasaran) yang lebih efektif.
1.      Bagian dari Fungsi Public Relation
  1. Hubungan internal
Adalah bagian khusus dari public relation yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan saling bermanfaat antara manajer dan karyawan tempat organisasi menggantungkan kesuksesannya.
Ahli hubungan internal bekerja di bagian “komunikasi karyawan,” “hubungan karyawan,” atau “hubungan internal.” Mereka ini merancang dan mengimplementasikan program komunikasi internal dengan tujuan agar karyawan tetap mendapat informasi baru dan tetap termotivasi, serta menciptakan kultur organisasi.
Menurut Alvie Smith, mantan direktur komunikasi korporat di General Motors, ada dua faktor yang menjelaskan mengapa manajemen menghormati salah satu aspek dari fungsi PR ini :
  1. Arti penting pemahaman, teamwork, dan komitmen karyawan dalam mencapai hasil standard. Aspek positif dari perilaku karyawan ini sangat dipengaruhi oleh komunikasi dua arah yang interaktif di seluruh organisasi.
  2. Kebutuhan untuk membangun jaringan komunikasi-manajer, jaringan yang membuat setiap supervisor di setipa level bisa melakukan komunikasi secara efektive dengan karyawannya. Kebutuhan ini bukan sekadar informasi yang berkaitan dengan tugas dan harus mencakup isu publik dan isu bisnis penting yang mempengaruhi keseluruhan organisasi ( Alvie L. Smith dalam surat kepada penulis, 28 Maret 1993 ).
  1. Publisitas
Adalah informasi yang disediakan oleh sumber luar yang digunakan oleh media karena informasi itu memiliki nilai berita. Metode penempatan pesan di media ini adalah metode yang tak bisa dikontrol sebab sumber informasi tidak member bayaran kepada media untuk pemutaran informasi tersebut.
Sumber-sumber PR menyediakan informasi yang mereka anggap pantas diberitakan informasi tersebut, dengan harapan editor dan reporter akan menggunakan informasi tersebut
Contoh dari publisitas itu sendiri antara lain berita di rubrik finansial tentang peningkatan pendapatan sebuah perusahaan, sebuah foto dan caption tentang pengumuman bisnis baru atau peluncuran produk baru, tulisan seorang kolumnis tentang kemajuan kampanye pengumpulan dana, berita feature di majalah yang menjelaskan tentang ilmuan ilmiah dari pusat diset kanker, dan sebagainya. Model praktik publisitas disebut informasi publik. Model ” mengisahkan cerita kami ” masih merupakan model yang paling banyak digunakan. Publisitas yang dihasilkan oleh mantan jurnalis telah mendominasi praktik PR sejak awal, jadi tidak mengejutkan jika ada yang masih mengacaukan anatara publisitas dengan konsep PR yang lebih luas.
  1. Advertising
Adalah informaasi yang ditempatkan di media oleh sponsor tertentu yang jelas identitasnya yang membayar untuk ruang dan waktu penempatan informasi tersebut. Ini adalah metode kontrol dalam menempatkan pesan di media.
Organisasi-organisasi menggunakan advertising untuk tujuan PR ketika mereka ingin menanggapi kritik di media-yakni kritik media yang tak bisa di kontrol sepenuhnya-saat mnereka menganggap sudut pandang mereka tidak dimuat secara adil dan seimbang, saat mereka merasa bahwa publik mereka tidak memahami isu dengan benar atau bersikap apatis, atau ketika mereka ingin mengemukakan pandangan terhadap suatu kasus.
  1. Press Agentry
Adalah penciptaan berita dan peristiwa yang bernilai berita untuk menarik perhatian media massa dan mendapatkan perhatian public.
Agen pers berusaha menarik perhatian publik lebih dari sekadar membangun pemahaman publik. Mereka mendasarkan pendekatannya pada teori penentuan agenda, yag menyatakan bahwa banyaknya liputan media massa akan menentukan persepsi publik terhadap arti penting relatif dari topik dan orang. Mereka menarik perhatian melalui praktik Press Agentry.
Pres agentry memainkan peran utama dalam industry rekaman music, olahraga professional, atraksi turis, studi film, televise, pertunjukan konser dan teater, dan usaha-usaha bisnis yang dipimpin oleh para selebritis. Misalnya, agen pers menciptakan legenda Davy Crockett dan Courtney Love; mempromosikan lomba balap Indianapolis 500 Memorial day dab Super Bowl sampai ke tingkat nasional.
  1. Public Affairs
Adalah bagian khusus dari public relation yang membangun dan mempertahankan hubungan pemerintah dan komunitas local dalam rangka memengaruhi kebijakan public.
Dalam perusahaan,”public affairs” biasa mengacu pada usaha PR yang berkaitan dengan kebijakan publik dan “corporate citizenship”. Spesialis public affairs di perusahaan berfungsi sebagai perantara atau penghubung dengan unit-unit pemerintah. Spesialis public affairs lainnya bekerja di departmen yang disebut “corporate affairs”,”corporate relations”,”government relations”, dan eksternal affairs”. (Hoewing,” The State of Public Affairs” )
  1. Lobbying
Definisi dari lobbying adalah bagian khusus dari PR yang berfungsi untuk menjalin dan memelihara hubungan dengan pemerintahteruama dengan tujuan memengaruhi penyusunan undang-undang dan regulasi. Banyak kalangan memnadang bahwa kegiatan lobbying sebagai usaha untuk memanipulasi demi kepentingan sendiri. Tetapi citra stereotiper pelobi yang membagi-bagi duit sambil mengiap rokok kini tak lagi berlaku untuk kebanyakan pelibi dan pekerjaan mereka:
Pelobi menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan informasi dari pemerintah ketimbang melakukan komunikasi dengan pemerintah, karena strategi,taktik dan posisi lobbying yang baik sangat tergantung kepada bisnis informasi yang kuat. ( Charles S. Mack , ” Lobbying And Political Action, dalam Practical Public Affairs.
  1. Manajemen Isu
Manajemen isu adalah proses proaktif dalam mengantisipasi, mengindentifikasi, mengevaluasi, dan merespons isu-isu kebijakan publik yamg memengaruhi hubungan organisasi dengan publik mereka. Sebuah panel ahli mengembang definisi tersebut menjadi: Menganttisipasi, meriset dan memprioritaskan isu;menilai dampak isu terhadap organisasi; merekomendasikan kebijakan dan strategi untuk meminimalkan resiko dan meraih peluang, berpartisipasi dan mengimplementasikan strategi ; mengevaluasi dampak program. ( Kerry Tucker dan Glen Broom, ” Managing Issues Acts as Bridge to Strategic Planning, ” Public Relations Journal 49 No. 11, November 1993: 38-40 )
  1. Hubungan Investor
Hubungan investor adalah bagian dari PR dalam perusahaan korporat yang membangun dan menjaga hubungan yang bermanfaat dan saling menguntungkan dengan shareholder dan pihak lain di dalam komunikasi keuangan dalam rangka memaksimalkan nilai pasar. Praktisi PR yang tidak pernah mendapatkan pelatihan yang baik dan tidak memiliki banyak pengalaman di dalam dunia bisnis, manajemen dan hukum kemungkina besar tidak akan mampu untuk mengisi posisi di bidang hubungan investor, ” demikian pendapat periset yang mempelajari persepsi fungsi CEO. ( Barbara K. Petersen dan Hugh J. Martin, ” CEO Perceptions of Investor Relations as a Public Relations Funtion: An Explatory Study, Journal of Public Relations Research 8, No. 3, 1996: 206-6 )
  1. Pengembangan
Pengembangan adalah bagian khusus dari PR dalam organisasi nirlaba yang bertugas dan membangun dan memelihara hubungan dengan donor dan anggota dengan tujuan mendapatkan dana dan dukungan sukarela. Spesialis pengembangan bekerja untuk stasiun penyiaran publik, yayasan riset penyakit, kelompok komunitas seni, museum, kebun binatang, kelompok pemuda, universitas, kelompok kepentingan khusus, dan organisasi keagamaan.Karena kelompok semacam ini bergantung kepada sumbangan, iuran anggota, atau kombinasi dari keduanya.

SELAMAT MEMBACA
 

No comments :

Post a Comment